Showing posts with label tahu bahasa. Show all posts
Showing posts with label tahu bahasa. Show all posts

Monday, December 14, 2015

Mengenal Istilah Waktu: "Jam" dan "Pukul"

sumber: http://thumbs.dreamstime.com

Kata jam dan pukul masing-masing memiliki makna yang berbeda. Akan tetapi, kita terkadang kurang cermat menggunakan dua kata itu sehingga tidak jarang digunakan dengan maksud yang sama. Sama seperti dalam Tahu Bahasa sebelumnya, ternyata masing-masing memiliki makna yang berbeda.

Kata jam bermakna ‘masa atau jangka waktu’ sedangkan kata pukul mengandung pengertian ‘saat atau waktu’. Dengan demikian, jika maksud yang diungkapkan adalah “waktu” atau “saat”, kata yang tepat digunakan adalah pukul, seperti pada contoh berikut:

(1) Rapat itu akan dimulai pada pukul 10.00.

Sebaliknya, jika yang ingin diungkapkan itu “masa” atau “jangka waktu”, kata yang tepat digunakan adalah jam, seperti pada kalimat berikut.

(2) Saya tidur selama 15 jam sehari.

Sumber: Prasetyo, Eko. 2013. Keterampilan Berbahasa Tepat Memilih Kata: Kasus Kebahasaan di Sekitar Kita. Indeks.

MPM

Menjadi "Pemenang", Menjadi "Juara"



Dalam keseharian, tidak jarang kita temukan penggunaan kata juara dan pemenang.  Sekilas, kedua kata ini sama saja. Akan tetapi, ternyata keduanya berbeda lho. Mari kita kupas!

Mari kita lihat dua kalimat breikut.

(1) Persib Bandung menjadi pemenang pertama dalam ajang Piala Presiden 2015.
(2) Burhan menjadi juara pertama lomba lari maraton se-Kabupaten Sleman.

Dalam KBBI, juara bermakna ‘orang (regu) yang mendapat kemenangan dalam pertandingan terakhir’, sementara pemenang bermakna ‘orang atau pihak yang menang’. Berdasarkan hal tersebut, contoh kalimat di atas dapat diperbaikai menjadi berikut.

(1) Persib Bandung menjadi juara dalam ajang Piala Presiden 2015.
(2) Burhan menjadi pemenang pertama lomba lari marathon se-Kabupaten Sleman.

Yang perlu diingat, kata juara sudah bermakna orang (regu) yang mendapat kemenangan dalam pertandingan terakhir (final). Jadi, kita tidak perlu menambahi pertama. Kedua, atau ktika di belakang kata juara. Yang lebih tepat adalah pemenang I, pemenang II, dan seterusnya.

Sumber:
Prasetyo, Eko. 2013. Keterampilan Berbahasa Tepat Memilih Kata: Kasus Kebahasaan di Sekitar Kita. Indeks.

MPM

Ketua dan Kepala



Sebelumnya, Tahu Bahasa membahas mengenai pemimpin dan pimpinan. Kali ini, kami akan membahas mengenai ketua dan kepala. Kapan ketua dan kepala dipakai? Apa perbedaannya?

Penutur bahasa Indonesia dapat menerima frasa kepala desa dan ketua kelas, tetapi tidak dapat menerima frasa ketua desa dan kepala kelas.

KBBI mengartikan kata ketua sebagai ‘orang yang tertua dan banyak pengalamannya dalam suatu kelompok manusia’. Ketua tidak menunjukkkan hierarki kedudukan, tetapi hanya menunjukkan posisi di dalam kelompoknya. Kata ketua digunakan untuk menunjukkan konsep pemimpin organisasi, institusi, dan sebagainya yang tidak memiliki kedudukan secara struktural, tetapi orang yang lebih tua pengetahuan dan pengalamannya, seperti ketua kelas, ketua partai, ketua panitia, dan sebagainya.

Sementara itu, kata kepala memiliki lebih dari satu makna. Makna utama dari kepala adalah ‘bagian tubuh yang di atas leher pada manusia dan beberapa jenis hewan yang merupakan tempat otak, pusat jaringan saraf, dan beberapa pusat indera’. Dari pengertian utama tersebut dapat diketahui bahwa sifat dari kepala adalah bagian yang paling penting dan paling utama.

Kata kepala pun akhirnya meluas maknanya sehingga dipakai sebagai sinonim kata pemimpin. Permasalahannya, pemimpin seperti apa yang dapat disebut kepala? Kata kepala digunakan untuk melambangkan konsep seseorang dan sebagainya yang berada pada kedudukan paling atas dan menjadi pusat jaringan atau pusat komando. Misalnya, kepala negara, kepala daerah, kepala keluarga, dan sebagainya.

Sumber: Majalah Aksi Anak Sastra (AKSARA) Edisi November 2012

MPM

Pemimpin atau Pimpinan?


Berbicara mengenai kepemimpinan, kita akan sering menemui istilah di atas. Tak sedikit yang bingung ketika membedakan pemimpin dan pimpinan Apa sih bedanya?

Kata pemimpin dan pimpinan berasal dari kata dasar yang sama: pimpin. Kata pemimpin terbentuk dari kata pimpin yang memperoleh imbuhan pe(N)-, sedangkan kata pimpinan terbentuk dari kata pimpin yang memperoleh akhiran –an. Kedua proses tersebut menghasilkan golongan kata yang sama, yaitu kata benda.

KBBI mengartikan pemimpin sebagai ‘orang yang memimpin’ dan pimpinan sebagai ‘hasil memimpin; bimbingan; tuntunan’. Dengan demikian, jika maksud yang ingin disampaikan adalah “orang yang memimpin", kata yang tepat digunakan adalah pemimpin. Perhatikan contoh berikut.

(1) Mahfud MD ditunjuk sebagai pemimpin dalam sidang kasus sengketa Pilkada Kalimantan Utara.

Sementara itu, jika maksud yang ingin diungkapkan itu adalah “hasil memimpin”, kata yang harus digunakan adalah pimpinan. Berikut contoh penggunaannya.

(2) Berkat pimpinan Presiden Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia berangsur baik.


MPM

Saturday, December 12, 2015

Sinonimi dan Antonimi: Tidak Sama Persis, Tidak Sangat Berbeda

Kali ini, Tahu Bahasa akan membahas mengenai sinonimi dan antonimi. Pastinya, para pembaca sudah pernah mempelajari ini sejak SD. "Sinonim itu persamaan kata, antonim itu lawan kata. Sinonim itu contohnya ayah dan bapak, antonim itu contohnya terang dan gelap."

Yep. Begitulah bapak-ibu guru kita mengajari cara sederhana memahami sinonimi dan antonimi. Akan tetapi, jika dikupas lagi, sinonimi dan antonimi berbicara lebih dari itu. Apa sih sinonimi dan antonimi itu?

Sinonimi adalah ungkapan (bisa berupa kata, frasa, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan yang lain (Verhaar, via Chaer 1990:85). Nah, mari kita perhatikan bagian yang digarisbawahi itu. Jika maknanya kurang lebih sama, maka maknanya tidak sama sepenuhnyaada yang berbeda. Mari kita perhatikan contoh kalimat berikut.

(1) Ibu berbelanjan di pasar setiap pagi.
(2) Ibu guru sedang mengajar kelas satu.

Ibu bersinonimi dengan bunda. Maka, mari kita coba kata bunda pada kalimat berikut.

(3) Bunda berbelanja di pasar setiap pagi.
(4) *Bunda guru sedang mengajar kelas satu.

Ternyata, meski bersinonimi, kita ibu dan bunda tidak sepenuhnya bisa menggantikan satu sama lain. Tentu saja, hal ini juga berlaku untuk semua bentuk sinonim yang lain.

Bagaimana dengan antonimi?

Antonimi adalah ungkapan (biasanya berupa kata, tetapi dapat pula berupa frasa atau kalimat (yang maknanya dianggap kebalikan dari makna ungkapan lain (Verhaar via Chaer, 1990:91). Secara singkat, pemahaman dasarnya adalah "lawan kata", atau ada juga yang menyebutnya "lawan makna". Namun, jika kita perhatikan bagian yang digarisbawahi, ungkapan itu hanya menyatakan "kebalikan" dan bukan "berlawanan".

Jika demikian, maka terang juga bisa berantonim dengan mendung. Cinta tidak harus berantonim dengan benci, bisa juga peduli. Begitu juga berpasangan tidak harus berantonim dengan sendiri, bisa juga bertiga.

Maka, dari kedua penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan dua hal. Pertama, ungkapan dalam sinonim hanya memiliki makna yang mirip, tetapi tidak sama persis. Kedua, ungkapan dalam antonim tidak harus melulu yang memiliki makna yang sangat berlawanan.



Friday, October 23, 2015

Rubah Menjadi Ubah, Ubah Menjadi Rubah

"Kita harus merubah diri kita agar kita bisa lebih berkembang."

Pernah dengar kalimat semacam itu? Pasti pernah ya. Tapi aneh, rasanya pernah juga mendengar mengubah bukan merubah. Yang bener yang mana sih?

Kali ini, kami ingin berbagi cerita tentang kata merubah dan mengubah. Semoga, melalui ini kita jadi lebih tahu dan lebih mengenal bahasa kita ya.


Imbuhan me- dan me(N)-

Dalam bahasa Indonesia, dikenal berbagai macam imbuhan. Salah satunya adalah imbuhan me-. Contohnya seperti melawan, merambat, dan melompati. Lalu, ada juga imbuhan me(N)-, yaitu imbuhan me- yang ditambahi bunyi-bunyian nasal, misalnya menyapu, mendengar, menulis, dan sebagainya.

Lalu, bagaimana dengan merubah dan mengubah?

Pertama, mari kita sepakati kata yang kita bahas adalah yang memiliki makna 'menjadikan lain dari semula'.

Kedua, berdasarkan makna itu, apa bentuk dasarnya? Mari kita intip KBBI:

1)rubah n binatang sejenis anjing, bermoncong panjang, makanannya daging, ikan, dsb
2)rubah --> ubah

ubah cak tukar;ganti

Sip! Maka, berdasarkan makna yang kita cari, bentuk dasarnya adalah ubah, bukan rubah,

Maka, jika disimpulkan menjadi seperti berikut:

merubah --> me- + rubah 'menjadi rubah'
mengubah --> me(N)- + ubah 'menjadikan lain dari semula'


Demikianlah cerita tentang rubah dan ubah, serta merubah dan mengubah. Semoga artikel ini bisa menambah pemahaman kita tetnang bahasa Indonesia. Salam bahasa!

GMP